Kontroversi 'Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah': Luka Anak Tanpa Ayah di Mata BKKBN
Surat Edaran BKKBN tentang 'Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah' menuai kritik tajam. Artikel ini mengulas kepedihan anak-anak yang tak punya ayah dan desakan agar kebijakan lebih sensitif. Simak sorotan lengkapnya!

Pagi, 14 Juli 2025, seluruh sekolah di Indonesia akan memulai tahun ajaran baru. Seperti biasa, orang tua akan mengantar anak-anak mereka ke sekolah. Namun, kali ini ada yang berbeda: pemerintah menyarankan, bahkan sampai mengeluarkan surat edaran, agar ayah yang biasanya bekerja, mengantarkan sendiri anaknya. Lantas, bagaimana nasib anak-anak yang tak punya ayah? Inilah yang ingin saya kupas tuntas, kawan! Mari simak narasinya sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula.
Pagi itu, Indonesia terbangun bukan karena kokok ayam, melainkan karena sebuah surat edaran yang terasa menusuk dada, lebih tajam dari tagihan listrik di akhir bulan. Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2025 dari BKKBN, tentang “Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah.” Sebuah program nasional yang konon katanya bertujuan mulia: mendekatkan ayah dan anak, mengukir momen sakral, dan menaburkan bunga-bunga kasih sayang di gerbang sekolah. Sayangnya, kita harus sadar, tidak semua anak memiliki ayah. Dan tidak semua bunga bisa mekar di tanah yang penuh luka.
Seorang ibu pernah mencurahkan isi hatinya kepada saya. Ia membaca surat edaran itu sambil menggenggam erat dua tangan mungil anaknya; yang satu baru masuk TK, yang lain baru akan duduk di bangku SD. Matanya bergetar. Bukan karena bahagia, melainkan karena hatinya remuk redam, dihantam kenyataan pahit bahwa ia harus memilih: membiarkan anaknya berangkat sekolah menyaksikan parade kebapakan nasional, atau melindungi mereka dari luka batin yang bisa terasa lebih tajam dari sembilu.
Bayangkan saja, kawan! Anda berdiri di gerbang sekolah. Di sekeliling Anda, anak-anak lain melompat riang, digandeng erat oleh ayah mereka. Ada yang datang dengan motor matic, ada yang turun dari mobil dinas, bahkan ada yang diantar ayahnya yang mengenakan jas dan dasi, seolah siap rapat akbar dengan Presiden. Lalu Anda? Berdiri sendiri. Menatap kosong ke kejauhan. Mencari-cari sosok yang tak akan pernah datang. Sebab ayahmu… sudah lebih dulu kembali ke pangkuan langit. Sementara negara, sayangnya, tidak menyediakan pengganti.
Betapa kerasnya dunia ini, ketika cinta harus dibuktikan dengan kehadiran seseorang yang sudah tiada. Betapa ajaibnya negeri ini, yang bisa membuat cinta terasa begitu menyakitkan hanya dengan satu lembar edaran. Yang lebih ajaib lagi, tidak ada opsi 'tidak punya ayah' dalam formulir kebijakan. Semua anak diasumsikan lengkap. Persis seperti nasi kotak program dinas: wajib ada lauk, sayur, dan buah. Kalau hanya nasi dan kuah air mata, itu dianggap tidak sah.
Ini bukan sekadar program biasa. Ini adalah sebuah pertunjukan nasional. Sebuah festival kasih sayang versi eksklusif, yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang beruntung terlahir dari keluarga yang utuh. Anak-anak yatim? Piatu? Dari keluarga yang berantakan (broken home)? Maaf, kalian tidak termasuk dalam daftar tamu undangan. Silakan berdiri saja di pinggir lapangan, dan saksikanlah dari jauh. Jangan sampai menangis, karena itu bisa mencoreng citra kebijakan negara.
Mari kita rayakan absurditas ini dengan semarak. Ajak semua ayah turun ke sekolah! Biarkan anak-anak yang tidak punya ayah tahu bahwa mereka berbeda! Ayo, jadikan hari pertama sekolah sebagai ajang seleksi sosial! Siapa yang punya ayah dan siapa yang tidak! Siapa yang berhak berbahagia dan siapa yang harus menunduk dalam kesunyian!
Tapi tenang, kita masih punya harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, kebijakan tidak lagi lahir dari meja-meja dingin yang jauh dari realitas, melainkan dari hati-hati yang pernah patah. Dari pelukan seorang ibu yang mampu menggantikan seribu peran. Dari air mata anak-anak yang terpaksa dewasa oleh sebuah sistem yang lupa, bahwa tidak semua kasih sayang harus memiliki jenggot dan mengenakan kemeja batik.
Menjadi seorang ayah bukan hanya sekadar status biologis, melainkan tentang kehadiran emosional yang penuh kasih dan dukungan. Sayangnya, tidak semua anak beruntung mendapatkannya. Maka biarlah sekolah menjadi ruang yang aman, bukan etalase ketimpangan kasih sayang. Karena di hari pertama sekolah, yang paling dibutuhkan bukanlah seorang ayah. Melainkan sebuah pelukan, dari siapa pun yang ada dan bersedia memeluk.
Untuk Anda, para ibu hebat, para nenek kuat, para janda tangguh, dan para anak yang telah kehilangan namun tetap berjalan dengan kepala tegak, kalian semua luar biasa. Dunia ini tidak berhak menilai kalian hanya karena tidak membawa ayah ke sekolah.
#camanewak
Ketua SatuPena Kalimantan Barat