Keselamatan Pasien RSUD Soedarso Tak Boleh Kompromi
Dr. Herman Hofi Munawar nilai kualitas medis & keselamatan pasien lebih utama dibanding kecepatan serah terima gedung RSUD dr. Soedarso demi mitigasi risiko.

PONTIANAK — Di tengah sorotan terhadap progres pembangunan kawasan RSUD dr. Soedarso, muncul pertanyaan krusial: manakah yang lebih penting, kecepatan serah terima gedung atau standar kualitas medis? Pengamat hukum dan kebijakan publik, Dr. Herman Hofi Munawar, menegaskan bahwa keselamatan pasien tidak mengenal kompromi dan harus menjadi prinsip utama yang tidak bisa ditawar.
“Rumah sakit bukan gedung biasa. Ia adalah ruang hidup dan mati. Variabel kualitas dan keselamatan medis memiliki bobot hukum dan moral yang jauh lebih besar dibanding target waktu,” ujar Herman, Senin, 12 Januari 2026. Ia menilai persepsi keterlambatan penyelesaian gedung justru merupakan proses krusial Quality Assurance and Risk Mitigation. Mengingat kompleksitas ekosistem medis seperti sirkulasi udara steril dan jaringan gas medis, kegagalan kecil dapat berakibat fatal.
Dalam perspektif hukum konstruksi, Herman mendukung langkah manajemen RSUD Soedarso melakukan finalisasi mendalam. Memaksakan operasional fasilitas yang belum memenuhi standar teknis 100 persen justru berisiko hukum pidana jika terjadi malfungsi. Ia juga menyoroti langkah future-proofing atau penyesuaian desain dengan teknologi medis terbaru agar bangunan tetap relevan secara fungsi dalam jangka panjang.
Keterlibatan tim teknis dan auditor eksternal mencerminkan tata kelola proyek yang transparan dan akuntabel. Menurut Herman, gedung baru ini adalah simbol peningkatan derajat kesehatan daerah. “Dengan memastikan gedung siap seratus persen sebelum dioperasikan, manajemen RSUD Soedarso sedang menjaga kepercayaan publik dan menegaskan komitmen terhadap standar pelayanan medis yang tanpa cela,” pungkasnya.
Jurnalis